Persiapan Ramadhan:
1.Taubat& Istighfar
- Berdoa Diberi Kesempatan Bertemu Ramadhan
- Perbanyak Puasa Sunnah
- Bayar Hutang Puasa Tahun Lalu
- Tingkatkan Kualitas Ibadah
- Siapkan Ilmu ttg Ramadhan
- Bersihkan Hati/Perbaiki Hubungan
- Sedekah/Melatih Kedermawanan
- Siap Fisik/Mental
- Buat Target ibadah
_____ Menyambut Ramadhan, perbanyak taubat dan istighfar, serta berdoa: “Allahumma ballighna Ramadhan.” (HR. Ahmad). Lakukan puasa sunnah (Senin-Kamis, Ayyamul Bidh) dan qadha puasa jika ada hutang. Tingkatkan ibadah seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, dan mengikuti kajian. Perbaiki hubungan dengan meminta maaf dan bersedekah. Jaga kesehatan dan siapkan mental agar kuat beribadah. Buat target ibadah, seperti khatam Al-Qur’an dan memperbanyak doa serta dzikir. Semoga Ramadhan kali ini lebih berkah. Aamiin.
Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata: “Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan untuk mengajarkan Al-Qur’an. Dan Rasulullah ﷺ lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari No. 6, Muslim No. 2308). Hadis ini menunjukkan keutamaan bersedekah sebelum dan saat Ramadhan, karena Rasulullah ﷺ memperbanyak amal kebaikan sebagai bentuk persiapan menyambut bulan suci yang penuh berkah.
____ Megengan sebagai tradisi Jawa menyambut Ramadan dengan doa dan sedekah sangat baik karena mengajarkan nilai berbagi dan persiapan spiritual. Kue apem, yang diyakini berasal dari kata Arab “afw” (ampunan), melambangkan permohonan maaf sebelum Ramadan. Namun, Islam tidak mewajibkan jenis makanan tertentu dalam sedekah. Jika diganti dengan beras, hukumnya tetap baik dan bahkan lebih utama karena lebih bermanfaat bagi penerima. Inti Megengan bukan pada apem, tetapi pada niat berbagi, mempererat silaturahmi, dan mempersiapkan diri secara spiritual untuk Ramadan.
_____ Penentuan awal Ramadan dilakukan dengan rukyat (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan astronomi). 1.Rukyat (Melihat Hilal Langsung)
Hilal diamati setelah matahari terbenam pada 29 Sya’ban. Jika terlihat, keesokan harinya 1 Ramadan; jika tidak, Sya’ban digenapkan 30 hari.
Dasar hukum:
QS. Al-Baqarah: 185
Hadis Nabi: “Berpuasalah karena melihatnya (hilal)… Jika tertutup, sempurnakanlah Sya’ban menjadi 30 hari.” (HR. Bukhari & Muslim)
Pendukung:
NU
Pemerintah Arab Saudi dan beberapa negara Islam lainnya.
2. Hisab (Perhitungan Astronomi)
Hisab menggunakan perhitungan ilmiah untuk menentukan posisi hilal tanpa perlu melihatnya langsung. Jika hilal sudah di atas ufuk dan memenuhi kriteria tertentu, maka dianggap masuk 1 Ramadan.
Dasar hukum:
Hisab dianggap sebagai metode rasional dalam memahami dalil, karena ilmu astronomi kini sangat akurat.
Sebagian ulama menilai hadis rukyat bersifat illat (sebab), sehingga hisab bisa dijadikan pedoman.
Pendukung:
Muhammadiya
Muhammadiyah
Beberapa organisasi Islam di Turki dan negara Muslim lainnya.
Tinggalkan komentar