Hukum Menunda Haid dalam Pelaksanaan Ibadah Puasa Ramadhan

 

               Seiring kemajuan dunia kesehatan, masalah siklus haid atau menstruasi bagi wanita sudah bisa ditunda dengan mengkonsumsi obat atau pil penunda haid. Yang menjadi permasalahan adalah bolehkah menunda siklus haid untuk tujuan menunaikan ibadah puasa ramadhan?
               Menurut Drs KH. Ahmad faisal Haq, M.Ag, para ulama mempunyai beberapa pendapat menyangkut menunda datangnya haid atau menstruasi dengan mengkonsumsi pil haid selama bulan ramadhan. Terdapat sejumlah ulama yang berpendapat bahwa hukumnya adalah tidak diperbolehkan.
               Dalam durus wa fatwa Al haram Al makki  Ibnu Utsmain mengatakan kepada para wanita yang mendapatkan haid pada bulan ramadhan “Syeikh Utsmain ditanya oleh seseorang: “ Apakah boleh seseorang wanita menggunakan pil penunda haid pada bulan ramadhan dan lainya? Beliau menjawab: “menurut hemat saya dalam masalah ini agar para wanita tidak menggunakanya biak dibulan ramadhan atau dibulan lainya, karena menurut para dokter hal ini menimbulkan bahaya yang sangat besar bagi rahim, urat syaraf dan darah. Dan segala sesuatu yang menimbulkan bahaya adalah dilarang. Padahal Nabi SAW telah bersabda:”janganlah kamu melakukan tindakan yang mmbahayakan dirimu dan orang lain’’.dan kami telah mengetahui dari mayoritas wanita yang menggunakanya bahwa kebiasaan haid mereka berubah, dan menyibukkan para ulama membicarakan masalah tersebut.maka yang paling benar adalah tidak menggunakan obat tersebut selamanya baik dibulan ramadhan maupun lainya.
               Menurut KH. Habib Syarif Muhammad, hukum awal pemakaian obat obat penunda haid dalam islam tidak terbolehkan. “ pemakaian obat berarti ingin menunda, sehingga melawan ketentuan yang telah digariskan. Perempuan memiliki siklus haid secara alamiah, sebagai rahmad dari Allah. Hanya ibadah haji merupakan amalan yang tidak bisa dilakukan setiap tahun dengan pengorbanan harta, tenaga, yang tidak sedikit.
               Namun demikian, ada banyak ulama yang berpendapat berbeda dengan pendapat diatas, diantaranya adalah;
Menyatakan boleh, dasar yang diambil menjadi pegangan berasal dari alqur’an dan dan Hadits  misalnya surah Al-baqarah ayat 185;
Artinya: “Allah menghendaki kemudahan atas kamu dan tidak menginginkan kesulitan menimpamu”.
               Selain itu Ibnu Qudamah Al Hanbaly dalam kitabnya Al Mughni (madzhab Hambali) dan Hutbah Al Maliki dalam kitabnya Mawahib Al jalil (Madzhab Maliki) serta Imam Ramli Asy Syafi’i dalam An-Nihyahnya (madzhab Syafi’i) Mereka menyatakan bahwa menggunakan pil pencegah haid dalam tujuan agar dapat melaksanakan puasa ramadhan dan ibadah lainya hukumnya mubah dalam artian boleh boleh saja, selagi tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan wanita.

Tinggalkan komentar