|
|
ASUHAN ANTENATAL |
||
|
No. Dokumen |
No. Revisi
|
Halaman
|
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
Ditetapkan Direktur
|
|
|
Pengertian
|
Pemeriksaan wanita hamil secara teratur dan tertentu |
||
|
Tujuan |
Menjamin agar tiap kehamilan berakhir dengan kelahiran bayi yang sehat
tanpa mengganggu kesehatan ibu.
|
||
|
Kebijakan |
Agar pasien mendapatkan pelayanan yang optimal |
||
|
Prosedur |
Pada Kunjungan Pertama
1. Menentukan Resiko Kehamilan (KRR, KRT).
a. Mengukur tinggi fundus rahim dalam sin. b. Melakukan pemeriksaan leopold I – IV. c. Membandingkan umur kehamilan menurut anamnesa dan pemeriksaan. d. Melakukan penilaian UPD dan tes Osborn bila ada indikasi.
Melakukan pemeriksaaan laboratoris. Pemeriksaan Hb, Reduksi, Albuminuria.
|
||
|
|
ASUHAN ANTENATAL |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman
|
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
|
.2. Menentukan Umur Kehamilan dengan Cepat
3. Menentukan Rencana Perawatan dan Persalinan.
Tergantung jenis resiko dan umur kehamilannya.
a) Bila termasuk KRR. 3.1.1. Diberikan tablet Fe dan imunisasi TT. 3.1.2. Mengusulkan perneriksaan USG dan NST bila diperlukan 3.1.3. Mengusulkan pemeriksaan tambahan, konsultasi dan tindakan. 3.1.4. Kunjungan berikutnya : – 1 bulan berikutnya sampai minggu ke 28. – 2 minggu berikutnya sampai minggu 36. – 1 minggu berikutnya sampai minggu partus.
b) Bila termasuk KRT. 3.2.1. Seperti KRR ditambah yang sesuai dengan policy KRT-nya. 3.2.2. Rencana persalinan berupa : – Spontan belakang kepala. Percepatan kala II. – SC. 2. Asuhan Pada Kunjungan Berikutnya 2.1. Pada KRR diperiksa pada karnar KRR dan KRT pada kamar KRT. 2.1.1. Janin : DJJ, ukuran dan perubahannya, jumlah ketuban, bagian menengah dan penurunannya, serta aktivitas janin. 2.1.2. Ibu : Tekanan darah, berat badan dan perubahannya, tinggu fundus, keluhan-keluhan. |
|||
|
|
ASUHAN ANTENATAL |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman
|
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
|
Unit terkait |
1. Unit Rawat Jalan
|
||
|
|
PEMERIKSAAN DETAK JANTUNG JANIN DENGAN DOPPLER |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman
|
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
Ditetapkan Direktur
|
|
|
Pengertian
|
Suatu urutan tindakan untuk melakukan pemeriksaan DJJ janin dengan alat doppler.
|
||
|
Tujuan |
Untuk mengetahui Detak Jantung Janin pada Ibu Hamil yang
merupakan tanda pasti kehamilan dengan janin hidup.
|
||
|
Kebijakan |
Agar pasien mendapatkan pelayanan yang optimal |
||
|
Prosedur |
1. Persiapan
1.1. Alat Doppler 1.2. Jelly 1.3. Lap basah 1.4. Memberi penjelasan pada pasien
2. Pelaksanaan
2.1. Perawat cuci tangan sebelum dan sesudah melaksanakan tindakan 2.2. Mengatur posisi pasien, kemudian menentukan daerah aufrat. 2.3. Ol eskan jelly pada probe. 2.4. Menghidupkan tombol Volume Doppler. 2.5. Meletakkan probe pada daerah aufrat. 2.6. Menghitung frekuensi DJJ/mendengarkan DJJ. 2.7. Bekas jelly dibersihkan dengan lap. 2.8. Alat-alat dibereskan
|
||
|
RSI. Hasanah |
PEMERIKSAAN DETAK JANTUNG JANIN DENGAN DOPPLER |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman
|
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
| Unit Terkait | 1. Unit Rawat Jalan
2. Unit Rawat Inap |
||
|
|
PERTOLONGAN PERSALINAN KALA II |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman 1/2 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
Ditetapkan Direktur
|
|
|
Pengertian
|
Pertolongan persalinan yang dimulai saat pembukaan servic lengkap dan
berakhir saat bayi dilahirkan.
|
||
|
Tujuan |
Sebagai pedoman agar setiap persalinan Kala II fisiologis dikerjakan secara benar.
|
||
|
Kebijakan |
Agar pasien mendapatkan pelayanan yang optimal |
||
|
Prosedur |
1. Persiapan
1.1. Satu set partus pak. 1.2. Satu set resusitasi bayi. 1.3. Gelas ukur. 1.4. Bengkok. 1.5. Timba. 1.6. Bahan dekontaminasi (larutan lysol 0,5 %). 1.7. Tempat kotoran. 1.8. Persiapan pasien, posisi litotomi/jonggens. 1.9. Persiapan penolong, cuci tangan, memakai celemek.
2. Pelaksanaan
2.1. Penolong berada di depan vulva/disamping kanan pasien. 2.2. Menutup daerah sekitar vulva dengan duk steril.
|
||
|
|
PERTOLONGAN PERSALINAN KALA II |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman 2/2 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
2 Agustus 2008 |
|
|
|
2.3. Memberi penjelasan pada pasien proses persalinan dan langkah yang akan dikerjakan serta cara mengejan yang benar. 2.4. Meminta ibu mengejan waktu ada his. 2.5. Melakukan anestesi lokal infiltrasi pada tempat eposiotomi menggunakan lidocain 1%. 2.6. Melakukan efisiotomi pada waktu perineum sudah tipis. 2.7. Melahirkan kepala bayi i dengan secara klasik. 2.7.1. Menahan perineum dan menekan ke arah kranial menggunakan ibu jari dan jari II, III penolong yang tertutup duk steril. 2.7.2. Menahan defleksi kepala dengan tangan kiri. 2.7.3. Berturut-turut akan lahir dahi, mata, hidung, mulut dan dagu. 2.7.4. Membersihkan lendir, mulut, dan hidung. 2.8. Membiarkan kepala bayi melakukan putar paksi luar, bila perlu membantu putar paksi luar. 2.9. Melahirkan bahu, dengan melnegang kepala secara biparietal dan menahan ke bawah untuk melahirkan bahu depan, kemudian menari ke arah atas untuk melahirkan bahu belakang. 2.10. Melahirkan badan dengan memegang kepala secara bifarietal, melakukan tarikan ke arah lengkung panggul sampai lahir seluruh badan bayi. 2.11. Meletakkan badan bayi pada duk steril di atas perut ibu. 2.12. Membersihkan jalan nafas bayi dan menilai APGAR. 2.13. Membersihkan badan bayilmemandikan dan kemudian membungkusnya.
|
|||
| Unit Terkait | 1. Unit Rawat Inap | ||
|
|
PERTOLONGAN PERSALINAN KALA III (MELAHIRKAN PLASENTA) |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman 1/2 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
Ditetapkan Direktur
|
|
|
Pengertian
|
Pertolongan persal.inan yang dimulai saat bayi lahir dan berakhir pada.kelahiran plasenta dan selaput janin.
|
||
|
Tujuan |
Sebagai pedoman agar persalinan Kala III dikerjakan dengan benar | ||
|
Kebijakan |
Agar pasien mendapatkan pelayanan yang optimal |
||
|
Prosedur |
1. Persiapan
1.1. Nelaton atau folley cateter. 1.2. Kapas savlon. 1.3. Bengkok. 1.4. Gelas ukuran. 1.5. Timba. 1.6. Bahan dekontaininasi (larutan lysol 0.5 %). 1.7. Tempat plasenta. 2. Pelaksanaan 2.1. Penolong berada didepan vulva atau sampaing kanan pasien 2.2. Memasang duk steril untuk menutup daerah vulva 2.3. Melakukan vulva hygiene dengan kapas savlon 2.4. Mengosongkan kandung kemih dengan katheter.
|
||
|
|
PERTOLONGAN PERSALINAN KALA III (MELAHIRKAN PLASENTA) |
||
|
No. Dokume |
No. Revisi
|
Halaman 2/2 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
| 2.5. Melakukan observasi tanda pelepasan plasenta dengan memperhatikan parameter sebagai berikut 2.5.1 Perut ibu Glubuler/cembung
2.5.2 Tali pusat menjulur sedikit 2.5.3 Keluar darah baru dari vagina 2.6 Melakukan tes separasi dengan cara merenggangkan tali pusat dengan tangan kanan, menekan fundud uteri dengan tangan kiri, bila tali pusat tidak tertarik ke dalam artinya plasenta sudah lepas atau separasi. 2.7. Bila plasenta sudah separasi, lahirlah plasenta dengan menekan fundus uteri ke arah bawah. Tali pusar ditarik pelan sampai plasenta lahir. 2.8 Melakukan message uterus sampai terasa ada kontrasi 2.9 Memeriksa plasenta apakah ada yang tertinggal 2.10 Memberikan suntikan oksitosin 10 unit intra maskuler 2.11 Mengukur jumlah darah yang keluar 2.12 Membersikan dan merapikan pasien. 2.13 Melakukan dekontaminasi alat dengan laruran klorin 0,5% 2.14 Mengukur gejala cardinal dan mencatat
|
|||
| Unit Terkait | 1. Unit Rawat Inap | ||
|
|
PENGGUNAAN OKSITIOSIN DRIP PADA PERSALINAN |
||
|
No. Dokumen |
No. Revisi
|
Halaman 1/3 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
Ditetapkan Direktur |
|
|
Pengertian
|
Suatu tindakan pada ibu hamil baik yang sudah inpartu maupun yang belum inpartu dengan memasukkan Inf. D 5% dan oksitosin.
|
||
|
Tujuan |
Sebagai pedoman pelaksanaan oksitosin drip baik untuk induksi maupun akselerasi persalinan | ||
|
Kebijakan |
Agar pasien mendapatkan pelayanan yang optimal |
||
|
Prosedur |
1 Persiapan
1.1. Persiapan alat/obat. 1.1.1. Medicuth, infus set. 1.1.2. 2 kolf Dextrose 5%. 1.1.3. Obat oksitosin 5 unit. 1.2. Persiapan pasien. 1.3. Pesiapan penolong. 2. Pelaksanaan
2.1. Oksigen drip hanya diberikan bila tidak ada kontra indikasi pemberiannya, dan bila his memang tidak adekuat. 2.2. Dipergunakan 500 cc glukose/dextrose 5 % yang ditambah dengan 5 U oksitosin. 2.3. Tetesan dimulai dengan 8 tetes/menit melakukan evaluasi selama 15 menit, bila his belum adekuat tetesan dinaikkan menjadi 4 tetes/menit sampai timbul his yang adekuat 2.4. Tetesan maskimal adalah 40 tetesan/menit. Bila dengan 40 tetesan/menit dan sudah 2 kolf dextrose habis his tetap belum adekuat maka oksitosin dianggap gagal. |
||
|
|
PENGGUNAAN OKSITIOSIN DRIP PADA PERSALINAN |
||
|
No. Dokumen |
No. Revisi 1 |
Halaman 2/3 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
|
2.5. Yang dimaksud dengan his yang adekuat dalam Minis adalah his yang mempunyai sifat sebagai berikut: 2.5.1. Interval setiap 3 – 5 menit, dengan fase relaksasi yang sempurna. 2.5.2. Lamanya: 40 – 60 detik. 2.5.3. lntensitas cukup, yang secara praktis dapat ditentukan dengan menekan fundus uteri dengan jari-jari tangan puncak kontraksi. lntensitas dianggap cukup apabila pada waktu ditekan uterus tidak menjadi cekung. 2.6. Evaluasi dari kemajuan persalinan dimulai pada his yang adekuat. 2.7. Drip dianggap gagal dan dihentikan apabila: 2.7.1. Dengan tetesan 40 tetes/menit dan sudah 2 kolf dextrose habis tidak didapatkan his yang adekuat. 2.7.2. Sesudah 2 jam dinilai dari permulaan his yang adekuat, tidak terjadi kemajuan persalinan. Juga tennasuk bila dalam 2 jam tersebut, his yang semula sudah adekuat menjadi tidak adekuat lagi. 2.7.3. Pada waktu dilakukan drip timbul komplikasi yaitu fetal distress, tetania uteri, ruptura uteri irroninens dan lain-lain. Bila terjadi penyulit-penyulit seperti di atas, oxytosin drip tidak boleh diulang kembali. 2.8. Penentuan jumlah tetesan pada ositosin drip harus dilakukart oleh dokter jaga sendiri. 2.9. Bila ekselerasi persalinan berhasil, maka oksitosin drip dilanjutkan dalam kala II dan dihentikan paling sedikit 2 jam post partum.
|
|||
|
|
PENGGUNAAN OKSITIOSIN DRIP PADA PERSALINAN |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi 1 |
Halaman 3/3 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
|
|
3. Secondary arrest adalah tidak adanya pembukaan ostium uteri pada persalinan fase aktif setelah dilakukan evaluasi selama 2 jam. Untuk menilai kemajuan ini seyogyanya dilakukan 1 orang.
4. Bila terjadi secondary arrest, hendaknya dievaluasi penyebab terjadinya hal tersebut. Bila persalinan pervaginam tidak mungkin atau tidak terjadi kelainan letak, maka dilakukan seksio caesarea.
|
||
| Unit Terkait | 1. Unit Rawat Inap | ||
|
|
EKSTRAKSI CUNAM |
||
|
No. Dokumen 01/MED/15 |
No. Revisi 1 |
Halaman 1/5 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit |
Ditetapkan Direktur
|
|
|
Pengertian
|
Suatu tindakan persalinan buatan dimana janin dilahirkan pada suatu tarikan cunam yang dipasang pada kepalanya | ||
|
Tujuan |
Untuk segera melahirkan janin sehingga dapat menyelamatkan jiwa ibu
maupun janin.
|
||
|
Kebijakan |
Agar pasien mendapatkan pelayanan yang optimal |
||
|
Prosedur |
1. Indikasi Relatif (Efektif, Profilaktif)
1.1. Ekstraksi cunan yang bila dikerjakan akan menguntungkan ibu ataupun janinnya, tetapi bila tidak dikerjakan, tidak akan merugikan, sebab bila dibiarkari, diharapkan janin akan lahir dalam 15 menit berikutnya. 1.2. Indikasi Relatif dibagi menjadi : 1.2.1. Indikasi De Lee. Ekstraksi cunam dengan syarat kepala sudah di dasar panggul, putaran paksi dalam sudah sempurna, levator ani sudah terenggang, dan syaratsyarat ekstrasksi cunam lainnya sudah dipenuhi. Ekstraksi cunam atas indikasi elektif, di negara-negara Barat sekarang banyak dikerjakan, karena dinegara-negara tersebut banyak dipakai anestesia atau conduction analgesia guna mengurangi nyeri dalam persalinan. Anestesia atau conduction analgesia menghilangkan tenaga mengejan, sehingga persalinan harus diakhiri dengan ekstraksi cunam.
|
||
|
|
EKSTRAKSI CUNAM
|
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi 1 |
Halaman 2/5 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
|
1.2.2. Indikasi Pinard Ekstraksi cunam yang mempunyai syarat sama dengan indikasi de lee, hanya di sini Pasien harus sudah mengejan selama 2 jam. 1.2.3. Keuntungan Indikasi Profilaktik, ialah : 1.2.3.l. Mengurangi ketegangan parineum yang berlebihan. 1.2.3.2. Mengurangi penekanan kepala pada jalan lahir. 1.2.3.2. Kala II diperpendek. 1.2.3.4. Mengurangi bahaya kompresi jalan lahir pada kepala. 2. Indikasi Absolut (Mutlak) 2.1. Indikasi Ibu : 2.1.1. Eklamsia, preklampsia. 2.1.2. Ruptura uteri membakat 2.1.3. Ibu dengan penyakit jantung, paru-paru dan lain-lain.
2.2. Indikasi Janin : 2.2.1. Gawat janin.
2.3. Indikasi Waktu : 2.3.1. Kala II memanjang.
3. Indikasi Kontra 3.1. Bila semua syarat dipenuhi, tidak ada indikasi kontra.
4. Syarat Untuk dapat melahirkan janin dengan ekstraksi cunan, harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 4.1. Janin harus dapat lahir pervaginam ( tidak ada disproporsi, sefalopelvik). 4.2. Pembukaan serviks lengkap. 4.3. Kepala janin sudah cakap (mencapai letak = sudah terjadi engagement). 4.4. Kepala janin harus dapat dipegang oleh cunam. 4.5. Janin hidup. 4.6. Ketuban pecah / dipecah.
|
|||
|
|
EKSTRAKSI CUNAM
|
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi 1 |
Halaman 3/5 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
|
|
5. Persiapan
5.1.Persiapan untuk lbu. 5.1.1. Posisi tidur lithotomi. 5.1.2. Rambut vulva dicukur 5.1.3. Kandung kemih dan rektum dikosongkan 5.1.4. Desinfeksi vulva. 5.1.5. Infus bila diperlukan. 5.1.6. Narkosis bila diperlukan. 5.1.7. Kain penutup pembedahan 5.1.8. Gunting episiotomi. 5.1.9. Alat-alat untuk menjahit robekan jalan lahir. 5.1.10. Uterotonika. 5.2. Persiapan untuk Janin. 5.2.1. Alat-alat pertolongan persalinan. 5.2.2. Alat penghisap lendir. 5.2.3. Oksigen. 5.2.4. Alat-alat untuk resusitasi bayi.
5.3. Persiapan untuk Dokter, 5.3.1. Mencuci tangan. 5.3.2. Sarung tangan suci hama. 5.3.3. Baju operasi suci hama.
Sebelum ektrasi cunain dikcrjaknn, penolong harus meneliti secara cermat apakah semua persiapan tersebut telah lengkap.
|
||
|
|
EKSTRAKSI CUNAM
|
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi 1 |
Halaman 4/5 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
|
|
6. Teknik
6.1. Cara Pcmasangan Cunam. Ditinjau dari posisi daun cunam terhadap kcpala janin dan panggul ibu pada waktu cunam tersebut dipasang, maka pemasangan cunam dibagi : 6.1.1. Pemasangan Sefalik (pemasangan biparietal, melintang terhadap kepala), ialah pasangan cunam dimana sumbu panjang cunam sesuai dengan diameter mentooksipitalis kepala janin, sehingga daun cunam terpasang secara simetrik di kiri kanan kepala. 6.1.2. Pemasangan Pelvik (melintang terhadap panggul) ialah pcmasangan cunam sehingga sumbu panjang cunam sesuai dengan sumbu panggul. Jadi pemasangan cunam yang baik ialah, bila cunam terpasang bilateral kepala dan melintang panggul. Hal ini hanya terjadi bila kepala janin sudah dipintu bawah panggul dan ubun-ubun kecil berada di depan di bawah simfisis. Oleh karena itu kriteria pemasangan cunam yang sempurna (ideal) ialah bila : 6.1.2.l. Sutura sagitalis tegak lurus dengan bidang tangkai cunam 6.1.2.2. Ubun-ubun kecil terletak 1 jari di atas bidang tersebut. 6.1.2.3. Kedua daun cunam teraba simetris disamping kepala. 6.2. Cara Ekstraksi Cunam. Ekstraksi cunam terdiri dari tujuh langkah, yaitu : 6.2.1. Penolong membayangkan bagaimana cunarn akan dipasang. 6.2.2. Pemasangan daun cunam pada kepala janin. 6.2.3. Mengisi sendok cunam. 6.2.4. Menilai hasil pemasangan hasil cunarn. 6.2.5. Ekstraksi cunam pcrcobaan. 6.2.6. Ekstraksi cunam definitif. 6.2.7. Membuka dan melepaskan scndok cunam. |
||
|
|
EKSTRAKSI CUNAM |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi 1 |
Halaman 5/5 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
| Unit Terkait | 1. Unit Rawat Inap | ||
|
|
EKSTRAKSI VAKUM |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi 1 |
Halaman 1/4 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
Ditetapkan Direktur
|
|
|
Pengertian
|
Tindakan persalinan buatan dimana janin dilahirkan dengan ekstraksi tenaga negatif (vakum) pada kepalanya.
|
||
|
Tujuan |
Bertujuan untuk segera melahirkan janin sehingga dapat menyelamatkan
jiwa ibu maupun janin. Alat ini dinamakan ekstraktor vakum atau ventouse.
|
||
|
Kebijakan |
Agar pasien mendapatkan pelayanan yang optimal |
||
|
Prosedur |
BENTUK DAN BAGIAN-BAGIAN EKSTRAKTOR VAKUM 1. Mangkuk (cup) 1.1. Bagian yang dipakai untuk membuat kaput suksedaneum artifisialis. Dengan mangkuk inilah kepala diekstraksi. Diameter mangkuk : 3, 4, 5, 6, cm. Pada dinding belakang mangkuk terdapat tonjolan, untuk tanda letak denominator. 1.2. Botol 1.2.1. Tempat membuat tenaga negatif (vakum). Pada tutup botol terdapat manometer, saluran menuju ke pompa penghisap, dan saluran menuju ke mangkuk yang dilengkapi dengan pentil. 1.3. Karet penghubung. 1.4. Rantai penghubung antara mangkuk dengan pemegang. 1.5. Pemegang (extraction bandle). 1.6. Pompa penghisap (vakum pomp)
2. Indikasi 2.1. Ibu 2.1.1. Untuk memperpendek kala II, misalnya : a. Penyakit jantung kompensata b.Penyakit paru-paru fibrotik. Waktu : kala II yang mamanjang.
|
||
|
|
EKSTRAKSI VAKUM
|
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman 2/4 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
|
2.2. Janin. 2.2. 1. Gawat Janin (masih kontroversi)
3. INDIKASI KONTRA
3.1. Ibu 3. l. l. Ruptura uteri membakat. 3.1.2. Pada penyakit-penyakit dimana ibu secara mutlak tidak boleh mengejan, misalnya payah jantung, Preeklampsia berat. 3.2. Janin 3.2.1. Letak muka. 3.2.2. After coming head. 3.2.3. Janin preterm. 4. SYARAT 4.1 Syarat-syarat ekstraksi vakum sama dengan ekstraksi cunarn, hanya disini syarat lebih luas, yaitu : 4.1.1 Pembukaan lebih dari 7 cm (hanya pada multigravida) 4.2 Penurunan kepala janin boleh pada hodge II Harus ada kontraksi rahim dan ada tenaga pengejan.
Teknik 1. Cara Pcmasangan Cunam. Ditinjau dari posisi daun cunam terhadap kcpala janin dan panggul ibu pada waktu cunam tersebut dipasang, maka pemasangan cunam dibagi : 1.1. Pemasangan Sefalik (pemasangan biparietal, melintang terhadap kepala), ialah pasangan cunam dimana sumbu panjang cunam sesuai dengan diameter mentooksipitalis kepala janin, sehingga daun cunam terpasang secara simetrik di kiri kanan kepala
|
|||
|
|
EKSTRAKSI VAKUM
|
||
|
No. Dokumen |
No. Revisi 1 |
Halaman 3/4 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
|
|
.
1.2. Pemasangan Pelvik (melintang terhadap panggul) ialah pemasangan cunam sehingga sumbu panjang cunam sesuai dengan sumbu panggul. Jadi pemasangan cunam yang baik ialah, bila cunam terpasang bilateral kepala dan melintang panggul. Hal ini hanya terjadi bila kepala janin sudah dipintu bawah panggul dan ubun-ubun kecil berada di depan di bawah simfisis. Oleh karena itu kriteria pemasangan cunam yang sempurna (ideal) ialah bila : 1.2.l. Sutura sagitalis tegak lurus dengan bidang tangkai cunam 1.2.2. Ubun-ubun kecil terletak 1 jari di atas bidang tersebut. 1.2.3. Kedua daun cunam teraba simetris disamping kepala. 2. Cara Ekstraksi Cunam. Ekstraksi cunam terdiri dari tujuh langkah, yaitu : 2.1. Penolong membayangkan bagaimana cunarn akan dipasang. 2.2. Pemasangan daun cunam pada kepala janin. 2.3. Mengisi sendok cunam. 2.4. Menilai hasil pemasangan hasil cunarn. 2.5. Ekstraksi cunam pcrcobaan. 2.6. Ekstraksi cunam definitif. 2.7. Membuka dan melepaskan scndok cunam. |
||
|
|
EKSTRAKSI VAKUM |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman 4/4 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
| Unit Terkait | 1. Unit Rawat Inap | ||
|
|
TINDAKAN OPERATIF DALAM KALA URI |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman 1/4 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
Ditetapkan Direktur
|
|
|
Pengertian
|
Suatu tindakan yang
bertujuan untuk segera melahirkan / mengeluarkan plasenta dari rongga rahim.
|
||
|
Tujuan |
Segera melahirkan/mengeluarkan plasenta dari rongga rahim sehingga dapat menyelamatkan jiwa ibu.
|
||
|
Kebijakan |
Agar pasien mendapatkan pelayanan yang optimal |
||
|
Prosedur |
1. PERASAT CREDE’
1.1. Perasat crede’ bermaksud melahirkan plasenta yang belum lahir secara ekspresi.
2. Syarat 2.1. Uterus berkontraksi balk dan veksika urinaria kosong.
3. Pelaksanaan 3.1. Fundus uteri dipegang oleh tangan kanan sedemikian rupa, sehingga ibu jari terletak pada permukaan depan uterus sedangkan jari lainnya pada fundus dan permukaan belakang. Bila ibu gemuk hal ini tidak bisa dilaksanakan dan sebaiknya dilaksanakan secara manual. Setelah uterus dengan rangsangan tangan berkontraksi baik, maka uterus ditekan ke jalan lahir. Gerakkan jari jari seperti rnenreras jeruk. Perasat crede’ tidak boleh dilalukan pada uterus yang tidak berkontraksi karena dapat menimbulkan inversio uteri.
|
||
|
|
TINDAKAN OPERATIF DALAM KALA URI |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi 1 |
Halaman 2/4 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
|
3.2. Perasat crede’ memang banyak menimbulkan kontroversi. Ada beberapa alili yang berpendapat bahwa perasat ini berbahaya karena menimbulkan karena menimbulkan tromboplastin atau fibrinolis okinase yang mengakibatkan koagulopati. Kalangan lain mengatakan baliwa hal tersebut tidak mengatakan bahwa hal tersebut tidak terbukti dan menganggap perasat crede’ yang dilakukan secara artis artinya tanpa paksaan tetap berguna. 3.3. Perasat crede’ dapat dicoba sebelum meningkat pada pelepasan plasenta secara manual. 4. PELEPASAN PLASENTA SECARA MANUAL 4.1. Indikasi 4.1.1. Retensio plasenta dan pendaralian banyak pada kala uri yang tidak dapat diberhentikan dengan uterotonika dan masase. 4.2. Pelaksanaan 4.2.1. Sebaiknya pelepasan plasenta secara manual dilakukan dalam narkose, karena relaksasi otot mernudahkan pelaksanaannya. Sebaiknya juga dipasang infus garam fisiologik sebelum tindakan dilakukan. Setelah disinfeksi tangan dan vulva, termasuk daerah sekitarnya maka daerah labia dibeberkan dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan dimasukkann secara obsterik ke dalam vagina. 4.2.2. Tangan kiri sekarang menahan fundus untuk mencegah kolpaporeksis tangan kanan dengan gerakan mernutar-rnutar menuju ostium uteri dan terus ke lokasi plasenta, tangan dalam ini menyusuri tali pusat agar tidak terjadi false route. 4.2.3. Supaya tali pusat mudah teraba, dapat diregangkan oleh asisten. Setelah tangan dalam sampai ke plasenta maka tangan tersebut pergi ke pinggir plasenta dan mencari bagian plasenta yang sudah lepas untuk menentukan bidang pelepasan yang tetap. Kemudian dengan sisi tangan sebelah kelingking plasenta dilepaskan pada bidang antara bagian plasenta yang sudah terlepas dan dinding ralrim dengan gerakan yang sejajar dengan dinding rasSetelah seluruh plasenta terlepas, plasenta dipegang dan dengan perlahan-lahan ditarik keluar |
|||
|
|
TINDAKAN OPERATIF DALAM KALA URI |
||
|
No. Dokumen 01/MED/17 |
No. Revisi 1 |
Halaman 3/4 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
2 Agustus 2008 |
|
|
|
|
Walaupun orang takut bahwa pelepasan plasenta meningkatkan insidensi infeksi tidak boleh dilupakan bahwa perasat ini justru bermaksud menghemat darah dan menangguhkan kejadian melahirkan plasenta paling lama 30 menit setelah anak lahir.
4.2.4. Kesulitan yang mungkin dijumpai waktu pelepasan plasenta secara manual ialah adanya lingkaran konstriksi, yang hanya dapat dilalui dengan diatasi oleh tangan dalam secara perlahan-lahan dan dalam narkosis yang dalam. Lokasi plasenta pada dinding depan rahim juga sedikit lebih sukar dilepaskan daripada lokasi pada dinding belakang. Ada kalanya plasenta tidak dapat dilepaskan secara manual seperti halnya pada plasenta akreta. 4.2.5. Plascnta akreta ditanggulangi dengan histerektomi. Setelah pelepasan plasenta secara manual sebaiknya pasien diberi antibiotika apalagi kalau kehilangan darah banyak. 4.2.6. Post tindakan dapat dilakukan eksplorasi uterovaginal, dengan inspeculo dilihat portio uteri, fornix posterior, anterior dan lateral, kemudian dilihat dinding vagina. . 5. EKSPLORASI RONGGA RAHIM
5.1. Indikasi 5.1.1. Persangkaan tertinggalnya jaringan plasenta (plasenta lahir tidak lengkap), setelah operasi vaginal yang sulit seperti ekstraksi cunam yang sulit, dekapitasi, versi, dan ekstraksi, perforasi dan lain-lain, untuk menentukan apakah ada ruptura uteri eksplorasi juga dilakukan pada pasien yang pernah mengalami seksio sesaria dan sekarang melahirkan pervaginam.
|
||
|
|
TINDAKAN OPERATIF DALAM KALA URI |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman 4/4 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
|
|
5.2. Penatalaksanaan
5.2.1. Tangan masuk secara obstetrik seperti pada pelepasan plasenta secara manual dan mencari sisa plasenta yang seterusnya dilepaskan atau meraba apakah ada kerusakan dinding uterus. Untuk menentukan robekan dinding rahim eksplorasi dapat dilakukan sebelum plasenta lahir dan sambil melepaskan plasenta secara manual
|
||
| Unit Terkait | 1. Unit Rawat Inap | ||
|
|
PENCEGAHAN PENDARAHAN PADA KALA NIFAS DINI |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman 1/2 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
Ditetapkan Direktur
. |
|
|
Pengertian
|
Mencegah terjadinya perdarahan yang patologis pada kala
nifas dini yaitu perdaralran lebilr dari 500 cc setelah plasenta lahir sampai 24 jam pertarna setelah persalinan.
|
||
|
Tujuan |
Untuk mencegah terjadinya perdarahan yang patologis pada kala
nifas dini yaitu perdaralran lebih dari 500 cc setelah plasenta lahir sampai 24 jam pertama setelah persalinan.
|
||
|
Kebijakan |
Agar pasien mendapatkan pelayanan yang optimal |
||
|
Prosedur |
1. INDIKASI
1.1. Terjadi perdarahan kala nifas (lebih atau diduga lebih 500 cc sejak plasenta lahir. 2. Petunjuk : 2.1 Perhitungan secara visual (sulit karena sering sudah menggumpal atau meresap dalam kain) 2.2 Atau dengan monitoring tanda vital dan menghitung dalam formula Giesecke 3. Penatalaksanaan 3.1. Pemasangan infus ukuran besar apabila belum terpasang, bila pendarahan banyak dan syok berat sebaiknya dipasang lebih dari satu saluran infus. 3.2. Pemberian cairan pengganti (RL/PZ) sesuai dengan formula Giesecke. 3.3. Pemasangan kateter tetap den mengukur produksi urine secara berkala. 3.4. Monitor tanda vital secara intensif selarna pertolongan diberikan. 3.5. Massage uterus atau kompresi bimanual.
|
||
|
|
PENCEGAHAN PENDARAHAN PADA KALA NIFAS DINI |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman 2/2 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
|
|
3.6. Pernberian uterotonika kalau perlu secara kontinyu melalui drip, dengan 20 – 30 unit oksitosis dalam 1000 cc cairan kristaloid dengan kecepatan 200 cc/jam Quilligan menganjurkan pemberian oksitosin 10 – 20 unit RL 5000 cc/jam disertai massege bimanual kemudian intermitten fundal massege selama 10 – 20 merit dilakukan selama beberapa jam sampai kontraksi uterus cukup keras tanpa stimuli.
3.7. Apabila setelah pemberian oksitosis dalam 1000 cc cairan tidak berhasil dapat diberikan derifat ergot atau prostagladin. 3.8. Penggunaan tampon uterus mungkin berhasil untuk menghentikan perdarahan karena atonia yang gagal dengan obat-obatan: Pernasangan tampon harus secara hati-hati den secara padat. Bahaya adalah memberi rasa aman yang semu sehingga menunda tindakan definitif yang perlu. Tampon yang padat menyerap darah sampai 1000 cc. Untuk mencegah infeksi sebaiknya diberikan antibiotika dan diangkat dalam 24 jam. 3.9. Apabila usaha di atas juga gagal maka dapat dipertimbangkan tindakan operatif yang ligasi arteria hypogastrika pada wanita yang masih ingin anak atau histerektomi bila sudah tidak menginginkan.
|
||
| Unit Terkait | 1. Unit Rawat Inap | ||
|
|
PENJAHITAN ROBEKAN PERINEUM |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman 1/2 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
Ditetapkan Direktur
|
|
|
Pengertian
|
Memperbaiki robekan perineum dengan jalan menjahir lapis demi lapis.
|
||
|
Tujuan |
Sebagai pedoman agar robekan pada perineum baik, yang terjadi
akibat luka episiotomi maupun ruptur perineum spontan dapat dijahit dengan benar.
|
||
|
Kebijakan |
Agar pasien mendapatkan pelayanan yang optimal |
||
|
Prosedur |
1. ETIOLOGI
Robekan pada perineum umumnya terjadi pada persalinan dimana : 1.1. Kepala janin terlalu cepat lahir 1.2. Persalinan tidak dipimpim sebagaimana mestinya 1.3. Sebelumnya pada perineum terdapat banyak jaringan parut 1.4. Pada persalinan dengan distoksia bahu 2. JENIS/TINGKAT 2.1. Robelan perineum dapat dibagi atas 3 tingkat : 2.1.1. Tingkat I : Robekan hanya terjadi pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa mengenai kulit perineum sedikit. 2.1.2. Tingkat Il : Robekan yang terjadi lebih dalam yaitu selain mengenai selanput lendir vagina juga mengenai muskulus perinei transversalis, tapi tidak mengenai sphinter ani. 2.1.3. Tingkat III : Robekan yang terjadi mengenai seluruh perineum sampai mengenai otot-otot sphinfer ani. 2.2. Teknik menjahit robekan perineum : 2.2.1 Tingkat I : Penjahitan robekan perineum tingkat I dapat dilakukan hanya dengan memakai catgut yang dijahit secara jelujur (continouse suture) atau dengan cara angka delapan (figure of eight).
|
||
|
|
PENJAHITAN ROBEKAN PERINEUM |
||
|
No. Dokumen |
No. Revisi 1 |
Halaman 2/2 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
|
|
2.2.2. Tingkat II : Sebelum dilakukan penjahitan pada robekan perineum tingkat lt maupun tingkat III, jika dijumpai pinggir robekan yang tidak rata atau bergerigi, maka pinggir yang bergerigi tersebut yang diratakan terlebih dahulu, kemudian digunting. Setelah pinggir robekan rata, baru dilakukan penjahitan luka robekan.
2.2.3. Mula mula otot dijahit dengan catgut, kemudian selaput lendir vagina dijahit dengan catgut secara terputus-putus atau jelujur, penjahitan selaput lendir vagina dimulai dari puncak robekan. Terakhir kulit perineum dijahit dengan benang sutera secara terputus-putus.
|
||
| Unit Terkait | 1. Unit Rawat Inap | ||
|
|
RUPTUR PERINEUM TOTAL |
||
|
No. Dokume |
No. Revisi
|
Halaman 1/1 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
Ditetapkan Direktur
|
|
|
Pengertian
|
Sejumlah tindakan untuk merawat ruptur perineum total.
|
||
|
Tujuan |
Perawatan Pasien dengan Ruptur perineum total. | ||
|
Kebijakan |
Agar pasien mendapatkan pelayanan yang optimal |
||
|
Prosedur |
PROSEDUR
1. Menyiapkan dan memasang dauer catheter (selama 3 hari). 2. Memberikan diet makanan lunak rendah serat (tanpa sayur). 3. Memberikan obat sesuai dengan advis dokter (secara iv/im/oral) 3.1. Antibiotik 3.2. Analgesik 3.3. Roborantia 3.4. Laxantia 4. Merawat luka perineum. 5. Observasi penyuluhan tentang : 5.1. Mobilisasi bertahap 5.2. Diet makanan serat 5.3. Pentingnya menjaga kebersihan genetalila/diri dan lingkungan.
|
||
| Unit Terkait | 1. Unit Rawat Inap | ||
|
|
POST PARTUM DINI (DALAM 24 JAM POST PARTUM) |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi 1 |
Halaman 1/2 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
Ditetapkan Direktur
|
|
|
Pengertian
|
Suatu tindakan untuk merawat Pasien 2 jam pasca persalinan. | ||
|
Tujuan |
Sebagai pedoman perawatan pasien post partum di ruangan bersalin | ||
|
Kebijakan |
Agar pasien mendapatkan pelayanan yang optimal |
||
|
Prosedur |
1. Memeriksa
1.1. Tinggi fundus uteri. 1.2. Kontraksi uterus. 1.3. Perdarahan pervaginaan. 1.4. Mengukur gejala kardinal tiap 4 jam. 1.5. Memandikan pasien yang baru melahirkan. 1.6. Merawat jahita.n perineum. 1.7. Memeriksa dan mengawasi keluarnya ASI. 1.8. Membantu ibu meneteki bayinya. 1.9. Observasi keluhan sesudah melahirkan : 1.9.1. Adanya kesulitan BAK. 1.9.2. Adanya keluhan tentang laktasi. 1.9.3. Adanya nyeri karena his postpartum. 1.9.4. Adanya nyeri pada symphisis. 1.10. Memberikan penyuluhan tentang : ` 1.10.1. Gizi ibu nifas. 1.10.2. Perawatan payudara dan laktasi.
6.1.10.3. Kebersihan diri dan lingkungan. 6.1.10.4. KB yang cocok bagi ibu nifas. 6.1.10.5. Perawatan bayi (tali pusat). 6.1.10.6. Perawatan jahitan perineum. 1.11. Untuk partus fisiologis perawatan ibu di ruangan bersalin maksimal 3 (tiga) hari. |
||
|
|
POST PARTUM DINI (DALAM 24 JAM POST PARTUM) |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman 2/2 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
| Unit Terkait | 1. Unit Rawat Inap | ||
|
|
MENYUSUI BAYI YANG BENAR |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman 1/2 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
Ditetapkan Direktur
|
|
|
Pengertian
|
Suatu urutan tindakan untuk menyusui bayi yang benar.
. |
||
|
Tujuan |
Sebagai pedoman untuk pelaksanaan menyusui bayi secara benar.
|
||
|
Kebijakan |
Agar pasien mendapatkan pelayanan yang optimal |
||
|
Prosedur |
1. Ibu dalam posisi :
1.1. Duduk 1.2. Berbaring 1.3. Berdiri
2. Cara memegang bayi, posisi perut bayi menempel pada perut ibu. 3. Cara memegang bayi, posisi perut bayi menempel pada perut ibu. 1. Cara memegang payudara dengan ibu jari berada dibagian payudara bagian atas, 4 jari bagian payudara bawah. 2. Memasukkan putting susu sampai areola mamae. 3. Memperhatikan posisi putting susu dalam mulut bayi sehingga bayi kelihatan menghisap dengan kuat. 4. Cara melepas putting susu dengan ujung jari kelingking dimasukkan ke lidah satu sisi mulut bayi. 5. Menyusui dengan memberikan kedua payudara. 6. Menyusui tidak terjadual. 7.Menyendawakan bayi setelah menyusu dengan cara menggendong bayi tegak dengan kepala bersandar pada pundak ibu kemudian menepuk punggungnya perlahan-lahan. |
||
|
|
MENYUSUI BAYI YANG BENAR |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman 2/2 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
|
|
| Unit Terkait | 1. Unit Rawat Inap | ||
|
|
PEMERIKSAAN VAGINAL |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman 1/2 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
Ditetapkan Direktur
|
|
|
Pengertian
|
Suatu tindakan memasukkan jari telunjuk dan jari tengah ke dalam vagina untuk pemeriksaan ginekologi.
. |
||
|
Tujuan |
Sebagai pedoman untu.k pemeriksaan vaginal dibidang Ginekologi, agar
pasien mengerti dan faham akan tujuan pemeriksaan.
|
||
|
Kebijakan |
Agar pasien mendapatkan pelayanan yang optimal |
||
|
Prosedur |
1. Konseling
1.1. Menerangkan maksud dan tujuan petneriksaan vaginal pada pasien. 2. Persiapan Tindakan 2.1. Syarat : 2.1.1. Dilakukan dengan halus dan hati-hati. 2.1.2. Dilakukan dalam keadaan steril. 2.1.3. Dilakukan dengan pendamping tenaga paramedik atau keluarga pasien. 2.2. Indikasi 2.2.1. Pada perneriksaan kesehatan ginekologik berkala (check up). 2.2.2. Bila ada keluhan dan atau kelainan yang diduga berasal dari organ genitalis. 2.3 Indikasi Kontra 2.3.1. Masih virgin 2.3.2. Dalam hal ini dilakukan pemeriksaan rektal.
|
||
|
|
PEMERIKSAAN VAGINAL |
||
|
No. Dokumen
|
No. Revisi
|
Halaman 2/2 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
. |
|
|
|
2.4. Persiapan Sebelum Tindakan
2.4.1. Pasien disiapkan pada tempat tidur atau meja yang memungkinkan posisi litotomi dan kedua paha terbuka. 2.4.2. Peralatan: Kapas yang direndam cairan antiseptik, spekulum, cunam, tampon, kasa tekan; kasa tampon. 3. Tindakan Pemeriksaan 3.1. Pasien diletakan dalam posisi litotomi. 3.2. Pemeriksaan memakai sarung tangan steril. 3.3.Vulva dan sekitarnya dibersihkan yang telah direndam dengan cairan antiseptik. 3.4. Dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri, vulva dibuka sehingga introitus vagina tampak. 3.5. Genetalia eksterna diperiksa dengan teliti untuk melihat adanya kelainan maupun anatomik, misalnya tanda-tanda keradangan, besar klitoris, bentuk himen, pembesaran kelenjar bartholin, adanya eksudat purulen dari arifisium uretra dengan melakukan stripping bagian distal uretra. 3.6. Melakukan pemeriksaan inspekulo dengan memasukkan spekulum Graves steril yang telah dibasahi atau diberi pelicin ke dalam vagina sehingga tampak serviks uteri. 3.7. Dilihat apakah pada serviks uteri terdapat perubahan seperti: polip, erosi, eversi, kista retensi, tumor atau keganasan. Dicatat sifat, jumlah, dan sumber flour albus atau darah. Dilihat pula perubahan-perubahan pada mukosa vagina. 3.8. Setelah pemeriksaan inspekulo selesai, spekulum dilepas selanjutnya dengan pemeriksaan tusuk vagina. Satu atau lebih jari tangan yang telah dibasahi atau diberi pelicin dimasukkan vagina. Pada saat jari tangan dimasukkan dirasakan derajat relaksasi vagina. Bila perlu pasien disuruh mengejan untuk mengetahui derajat kistokel, rektokel, atau penurunan rahim. 3.9. Pemeriksaan dimulai dengan melakukan palpasi serviks diraba tentang konsistensinya, besar dan bentuknya, arahnya, nyeri goyang, dan apakah ada kelainan.
|
||
|
PEMERIKSAAN VAGINAL |
|||
|
Halaman
|
No. Revisi
|
Halaman 2/2 |
|
|
PROSEDUR TETAP |
Tanggal terbit
|
Ditetapkan Direktur
|
|
|
|
3.10. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan bimanual untuk mengetahui keadaan rahim. Jika arah uterus antefleksi, uterus dapat diraba diantara dua tangan, yang satu di dalam vagina pada forniks anterior dan yang lain menekan uterus ke bawah dari dinding perut. Ditentukan konsistensi, besar, kontur, mudah digerakkan atau tidak, apakah nyeri tekan, ada atau tidaknya tumor. Jika arah uterus retrofleksi, tangan yang berada di vagina menekan forniks posterior untuk dapat meraba uterus.
3.11. Pada saat tangan menekan forniks posterior, diraba pula keadaan ligarnen sakrouterium dan rongga douglas menonjol. 3.12. Pemeriksaan dilanjutkan dengan menekan adneksa parametrium kanan dan kiri. Tangan yang berada di vagina menekan forniks.lateralis dan yang berada diluar menekan dinding perut. Diraba ovarium: besarnya, nyeri tekan, tumor dan derajat kebebasannya. 3.13. Untuk meraba lebih jelas bagian belakang rahim dan rongga douglas, kadangkala dilakukan pula pemeriksaan rektovaginal. Jari telunjuk dimasukkan vagina dan jari tengah dimasukkan rectum. 4. Tindak Lanjut 4.1. Menulis hasil pemeriksaan pada status pasien. 4.2. Menetapkan diagnosa.
|
||
| Unit Terkait | 1. Unit Rawat Inap | ||
Tinggalkan komentar